Warta Medan News – Momen Minggu Paskah IV yang bertepatan dengan Minggu Panggilan Sedunia pada 26 April 2026, menjadi hari yang penuh syukur bagi umat Katolik di Gereja Santa Theresia Sedayu, Bantul. Dalam perayaan ini, umat diajak untuk merefleksikan kembali rahmat panggilan hidup yang telah diberikan Tuhan.
Romo Emanuel Graha Lisanta, Pr, dalam homilinya pada Misa yang dimulai pukul 07.00 WIB tersebut menegaskan bahwa panggilan hidup bukan hanya soal menjadi imam atau biarawan-biarawati (selibat). Lebih luas dari itu, hidup berkeluarga juga merupakan sebuah panggilan suci yang harus disyukuri.
“Kita pantas bersyukur atas anugerah panggilan. Baik menjadi biarawan maupun berkeluarga,” ujar Romo Graha di hadapan ratusan umat yang hadir.
Ia juga mengajak seluruh umat untuk semakin berani dalam menanggapi panggilan Tuhan. Menurutnya, Rahmat Allah hanya akan menjadi berkat yang nyata jika ditanggapi dengan kesetiaan dan diperjuangkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mengutip pesan mendalam dari Paus Leo XIV, Romo Graha mengingatkan bahwa panggilan bukanlah milik pribadi yang harus dinikmati sendiri, melainkan instrumen untuk hidup bersama. Panggilan tersebut akan menjadi berkat jika seseorang berani keluar dari zona nyaman dirinya sendiri. Sebaliknya, panggilan akan menjadi sia-sia jika hanya digunakan untuk kepentingan ego pribadi.
“Panggilan hidup itu untuk melayani dunia, membantu orang yang membutuhkan,” ucapnya dengan tegas. Ia merincikan bahwa bagi biarawan/biarawati, panggilan adalah mempersembahkan diri bagi umat, sementara bagi yang berkeluarga, panggilan adalah melayani dan mempersembahkan diri sepenuhnya untuk keutuhan keluarga.
Misa di Gereja Santa Theresia Sedayu ini berlangsung khidmat dengan sistem konselebrasi yang dipimpin oleh empat imam, yakni Romo Antonius Hadi Cahyono, Pr, Romo Emanuel Graha Lisanta, Pr, Romo Palma Hadi Antara, Pr, dan Romo Tinus, SCJ.
Kehadiran para biarawan dan biarawati menambah kekhusyukan suasana. Apalagi, jalannya liturgi semakin megah berkat iringan koor dan orkestra dari para Seminaris Mertoyudan—para calon imam yang tengah menempuh pendidikan di Seminari Menengah Petrus Canisius, Magelang.
Bagi umat yang tidak bisa hadir secara langsung, Misa ini juga disiarkan secara tunda oleh Pro 1 Jogja melalui kanal YouTube Komsos Paroki Sedayu serta aplikasi RRI Digital.
Minggu Panggilan Sedunia pertama kali dicanangkan oleh Paus Paulus VI pada tahun 1964. Peringatan ini rutin dilaksanakan setiap Hari Minggu Paskah IV, yang juga dikenal sebagai Hari Minggu “Gembala Baik”. Tujuannya adalah untuk mengajak seluruh umat beriman mendoakan tumbuhnya benih-benih panggilan baru dalam Gereja, baik sebagai imam, biarawan, biarawati, maupun awam yang berdedikasi.
Di Indonesia, tradisi Minggu Panggilan biasanya dirayakan dengan berbagai kegiatan kreatif seperti promosi panggilan oleh berbagai kongregasi religius, testimoni hidup membiara, hingga keterlibatan aktif para seminaris dalam pelayanan liturgi di paroki-paroki. Hal ini bertujuan agar kaum muda semakin mengenal berbagai macam bentuk pelayanan dalam Gereja dan berani menjawab “Ya” terhadap rencana Tuhan dalam hidup mereka.
